Sumber materi biologi tentang sel, sel tumbuhan, sel hewan, fungsi sel, struktur sel, perbedaan sel tumbuhan dan sel hewan

6 ANCAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI

 KEANEKARAGAMAN HAYATI

Keanekaragaman hayati mempunyai peranan yang sangat penting terhadap kehidupan manusia. Namun keanekaragaman hayati saat ini terancam oleh kegiatan manusia pula. 

Akibat kegiatan manusia beberapa satwa telah punah dari kehidupan di bumi.  Informasi yang paling banyak mengenai kepunahan adalah satwa mamalia dan burung, karena satwa ini mempunyai anggota kelompok yang relatif besar dan banyak dipelajari dan mudah dilihat. 

Berdasarkan bukti-bukti yang ada diperkirakan 85 spesies mamalia dan 113 spesies burung telah punah sejak tahun 1600.  

Keanekaragaman hayati merupakan issue yang paling hangat dibicarakan pada akhir-akhir ini. Issue tersebut muncul akibat hilangnya keragaman genetik, jenis dan ekosistem dunia pada akhir abad ke 20. Diperkirakan rata-rata sekitar 100.000 jenis telah punah setiap tahunnya, bahkan dalam kurun waktu dua setengah abad yang akan datang sebanyak 25 % kehidupan akan hilang dari permukaan bumi ini. Hal tersebut disebabkan karena aktivitas manusia yang mengarah pada kerusakan habitat maupun pengalihan fungsi lahan. Kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan karena seperti kita ketahui keanekaragaman hayati mempunyai peranan penting sebagai penyedia bahan makanan, obat-obatan dan berbagai komoditi lain penghasil devisa negara, juga berperan dalam melindungi sumber air, tanah serta berperan sebagai paru-paru dunia dan menjaga kestabilan lingkungan.

Penyebab Kepunahan


Kegiatan manusia adalah penyebab utama kepunahan. Hal ini disebabkan oleh penggunaan kekayaan alam yang semakin meningkat akibat semakin bertambahnya populasi manusia di muka bumi. Ancaman kepunahan keanekaragaman hayati adalah: 

1. Perusakan habitat


Ancaman utama pada keanekaragaman hayati adalah rusak dan hilangnya habitat.  Kelompok vertebrata, invertebrata, tumbuhan dan jamur akan kehilangan tempat jika habitat rusak atau hilang.  Kerusakan hutan hutan tropis akibat penebangan liar yang tak terkendali sama halnya dengan kepunahan spesies.  

Proses laju penurunan mutu hutan dan pengundulan hutan pada hutan alam dikhawatirkan telah menyebabkan kepunahan banyak spesies.  Kepunahan spesies merupakan aspek kerusakan lingkungan yang sangat serius.  Apabila suatu spesies punah, populasinya tidak akan pernah pulih, dan komunitas tempat hidupnya akan tidak seimbang.  

Perusakan habitat alami maupun mengubah habitat alami menjadi areal hutan tanaman industri, areal perkebunan, areal pertanian, dan penukiman telah memberikan andil yang besar bagi kepunahan keanekaragaman hayati di Indonesia.   


2. Fragmantasi habitat


Fragmentasi habitat adalah peristiwa yang menyebabkan habitat yang luas dan berkelanjutan diperkecil atau dibagi menjadi dua atau lebih fragmen. Fragmen-fragmen yang terjadi adakalanya terisolasi satu dengan yang lainnya oleh daerah yang terdegradasi.  Fragmentasi ini biasanya disebabkan oleh pembuatan jalan, pembukaan areal pertanian dan perkotaan atau kegiatan lainnya.

Fragmentasi habitat mengakibatkan daerah tersebut mempunyai daerah tepi yang lebih luas dan daerah pusat (tengah) lebih dekat ke daerah tepi.  Sebagai contoh, misalnya saja daerah konservasi yang mempunyai panjang sisi masing-masing 1000 meter (1 km).  Luas total area ini adalah 1 km2 (100 hektar) . Luas daerah tepi adalah 4000 meter. Suatu titik di bagian  tengah daerah ini berjarak 500 meter dari daerah tepi yang terdekat.  Jika kucing rumah dapat masuk sejauh 100 meter untuk mengganggu kehidupan burung, maka terdapat 64 hektar wilayah yang aman bagi burung untuk berkembang biak.  Habitat tepi yang tidak baik bagi burung untuk bertelur dan memelihara anaknya adalah seluas 36 hektar. 

Kemudian daerah ini dibagi menjadi 4 wilayah yang besarnya sama oleh jalan yang lebarnya 10 meter dari utara ke selatan dan jalan kereta api dari timur ke barat dengan lebar 10 meter.  Keduanya mengambil kawasan konservasi seluas 2 x 1000 meter x 10 meter = 2 hektar.  

Daerah yang terambil cuma 2 hektar, namun dampaknya sangat luar biasa.  Daerah konservasi tersebut sekarang menjadi empat bagian yang terpisah. Setiap bagiannya mempunyai luas 495 x 495 meter.  Sekarang jarak suatu titik di bagian tengah dari tiap fragmen ke daerah tepi terdekat menjadi 247 meter.  Sekarang kucing rumah dapat masuk dari berbagai jalan, yaitu jalan mobil dan kereta api. Dengan demikian burung dapat aman berkembang biak hanya pada daerah paling dalam dari keempat fragmen tersebut.

Fragmentasi habitat juga mengancam kepunahan dengan cara yang lain. Fragmentasi habitat dapat memperkecil potensi suatu spesies untuk menyebar dan berkolonisasi.  Banyak spesies burung, mamalia dan serangga pada daerah pedalaman hutan tidak dapat menyeberangi daerah terbuka oleh karena adanya bahaya dimakan pemangsa, walaupun daerah terbuka ini tidak begitu luas. Penurunan kemampuan penyebaran hewan ini berakibat pula menurunnya penyebaran tumbuhan yang tergantung padanya. 

Fragmentasi habitat akan mengurangi daerah jelajah hewan.  Kebanyakan spesies hewan mempunyai daerah jelajah yang luas untuk dapat memenuhi kenutuhan hidupnya. 

Fragmentasi habitat juga akan mempercepat pengecilan atau pemusnahan populasi dengan cara membagi populasi yang tersebar luas menjadi dua atau lebih subpopulasi dalam daerah yang luasnya terbatas.  Populasi yang lebih kecil ini menjadi lebih rentan terhadap tekanan silang dalam (inbreeding depression), genetik drift dan masalah lain yang terkait dengan populasi yang berukuran kecil. 

3. Efek tepi (edge effect)


Fragmentasi habitat akan menambah luas daerah tepi.  Lingkungan mikro daerah tepi berbeda dengan lingkungan mikro daerah tengah hutan.  Beberapa efek tepi yang penting adalah naik turunnya intensitas cahaya, suhu, kelembaban dan kecepatan angin secara drastis.  Oleh karena tumbuhan dan hewan biasanya sangat tergantung pada suhu, kelembaban dan intensitas cahaya tertentu , maka perubahan tersebut akan memusnahkan banyak spesies yang tidak toleran.  

Karena fragmentasi maka kecepatan angin akan bertambah, sehingga memperbesar kemungkinan terjadi kebakaran hutan.  Api dapat berasal dari daerah pertanian sekitar yang memang sengaja di bakar.  

Fragmentasi habitat juga akan memperbesar invasi spesies eksotik dan spesies hewan dan tumbuhan penganggu.  Daerah tepi hutan merupakan lingkungan yang terganggu sehingga spesies penganggu dapat dengan mudah berkembang dan menyebar ke bagian dalam fragmen hutan.  

Fragmentasi habitat juga menyebabkan spesies liar menjadi dekat dengan tumbuhan dan hewan peliharaan.  Penyakit spesies peliharaan ini akan dengan mudah menular ke spesies liar yang tidak mempunyai imunitas tinggi terhadap penyakit tersebut. Sebaliknya pula dapat terjadi penularan penyakit dari spesies liar ke hewan piaraan dan bahkan ke manusia.

4. Polusi dan degradasi habitat


Meskipun habitat tidak terganggu oleh kerusakan dan fragmentasi, spesies pada habitat tersebut dapat dipengaruhi oleh kegiatan manusia.  Spesies dapat punah oleh faktor-faktor luar yang tidak mengubah struktur tumbuhan dominan pada suatu komunitas sehingga kerusakan tersebut tidak langsung terlihat.  Misalnya saja pelayaran dan penyelaman yang terlalu sering dilakukan pada daerah terumbu karang dapat meyebabkan degradasi komunitas, sebab spesies yang rentan akan terinjak oleh kaki penyelam, jangkar, dan perahu.  Bentuk yang paling umum adalah degradasi lingkungan oleh pencemaran atau polusi, sperti pestisida, bahan kimia dan huangan oleh industri, sampah rumah tangga, gas dan asap yang dikeluarkan oleh pabrik, kendaraan bermotor. 

Efek polusi terhadap kualitas air, udara dan bahkan iklim global sangat mengkahawatirkan tidak saja sebagai ancaman keanekaragaman hayati tetapi juga kesehatan manusia. 

5. Penggunaan spesies yang berlebih untuk kepentingan manusia


Pola penggunaan secara berlebihan atas suatu spesies akan berakibat jumlah populasi spesies tersebut menjadi sedikit bahkan punah.  Untuk mencegah kepunahan tersebut dilakukan dengan memperkirakan penggunaan  yang berkelanjutan secara maksimum, dimana pemanenan dari suatu spesies di alam setiap tahunnya dilakukan berdasarkan keberadaan dan tingkat pembaharuan oleh proses pertumbuhan secara alami. Disamping itu pemanenan harus memperhatikan pula fluktuasi populasi yang terjadi pada setiap musim pada periode tahunnya.

6. Introduksi spesies-spesies eksotik


Sebaran geografis setiap spesies dibatasi oleh penghalang lingkungan dan iklim.  Sehingga setiap wilayah mempunyai keanekragaman spesies yang berbeda-beda. Adanya revolusi industri telah banyak mengubah sebaran spesies oleh manusia, terutama spesies yang mempunyai nilai ekonomi.  Manusia membawa hewan peliharaan dan tumbuhan budidaya dari suatu tempat ke tempat lain saat mereka membuka pertanian atau peternakan baru.  Sehingga banyak spesies baik hewan dan tumbuhan yang dimasukkan ke suatu daerah yang bukan tempat aslinya.  Sejumlah besar tumbuhan diintroduksi dan ditanam di daerah baru sebagai tanaman hias, tanaman pangan atau tanaman makanan ternak. Banyak spesies ini yang kemudian menjadi liar di komunitas lokal.

Selain itu penyebaran spesies introduksi juga dapat diakibatkan oleh pengangkutan yang tidak disengaja.  Misalnya saja tikus dan serangga yang terbawa kapal laut atau kapal udara. Atau tanaman yang bijinya ikut terbawa oleh manusia.  

Sejumlah besar spesies introduksi tidak dapat bertahan hidup di daerah barunya karena lingkungan baru tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan hidupnya.  Walaupun demikian, beberapa spesies dapat bertahan hidup bahkan membentuk koloni di tempat barunya dan bahkan dapat bertambah besar jumlahnya. Biasnya koloni ini akan mengalahkan organisme asli daerah tersebut melalui kompetisi mendapatkan bahan makanan yang jumlahnya terbatas.

Hewan introduksi mungkin juga memangsa spesies asli sampai punah, atau mereka mengubah habitat sehingga organisme asli tidak dapat hidup lagi di tempat itu. 

Tindakan manusia (seperti pemupukan, pengendalian hama penyakit, peningkatan kadar cahaya dan lain-lain) dapat pula menyebabkan timbulnya kondisi linglkungan yang memungkinkan spesies eksotik lebih mudah menyesuaikan diri daripada spesies lokal. 

Dalam hal tertentu keberadaan spesies eksotik ini dapat merupakan ancaman yang serius seperti halnya degradasi hutan. 


Karakter spesies terhadap kepunahan


Para ahli ekologi telah mengetahui bahwa tidak semua spesies mempunyai kemungkinan yang sama untuk menjadi punah. Kerentanan spesies terhadap kepunahan umumnya ditentukan oleh salah satu karakter:

  • Spesies yang mempunyai sebaran geografis sempit, umumnya rentan terhadap kerusakan habitat oleh kegiatan manusia.
  • Spesies yang terdiri dari satu atau sedikit populasi akan sangat rentan terhadap kerusakan habitat dibandingkan dengan spesies yang terdiri dari banyak populasi
  • Spesies yang memiliki ukuran populasi yang kecil akan mudah punah akibat pengaruh variasi demografi dan lingkungan serta hilangnya keanekaragaman genetik bila dibandingkan dengan spesies yang berukuran populasinya yang besar.
  • Spesies yang ukuran populasinya cenderung menurun akan mudah punah bilamana penyebab penurunan tidak dapat diketahui dan diperbaiki.
  • Spesies yang memiliki densitas rendah per satuan luas, terutama pada kawasan yang terfrsgmentasi akan mudah mengalami kepunahan.
  • Spesies yang memerlukan jelajah yang luas akan sangat rentan terhadap kepunahan bilamana wilayah jelajahnya dirusak atau mengalami fragmentasi.
  • Hewan yang mempunyai ukurantubuh yang besar akan memiliki wilayah jelajah yang luas serta makanan yang lebih banyak secara individu, serta rentan untuk diburu maupun dirusak wilayah jelajahnya maupun habitat untuk mencari makan dan minumnya.
  • spesies yang tidak memiliki kemampuan menyebar yang baik di alam akan sangat rentan terhadap perubahan dan perusakan habitat, karena spesies tersebut tidak mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.
  • Spesies yang bermigrasi musiman akan sangat rentan terhadap kepunahan karena ketidakmampuan bertahan di habitatnya.
  • Spesies yang mempunyai keanekaragaman genetik yang rendah akan lebih banyak kemungkinan punah karena penyakit, atau perubahan lingkungan.
  • Spesies yang memiliki relung tertentu akan rentan terhadap kepunahan apabila relung tempat hidupnya rusak.
Demikian posting hari ini mengenai 6 ancaman keanekaragaman hayati.
Tag : biodiversity
0 Komentar untuk "6 ANCAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI"
Back To Top -->